TVRINews, Anambas
Tiga pelajar SMP Negeri yang sebelumnya dilaporkan pergi memancing dan berkemah di kawasan hutan Gunung Samak, Kabupaten Kepulauan Anambas, berhasil ditemukan selamat oleh Tim SAR Gabungan pada Jumat, 15 Mei 2026.
Operasi pencarian ini menjadi contoh penting bagaimana koordinasi cepat antarlembaga serta informasi akurat dari masyarakat mampu meredakan kekhawatiran keluarga, terutama di wilayah kepulauan dengan medan sulit dan keterbatasan jaringan komunikasi.
Ketiga pelajar berinisial MS, D, dan O awalnya berpamitan kepada keluarga untuk pergi memancing. Namun mereka tidak menyampaikan secara rinci tujuan perjalanan, hanya diketahui akan melintasi kawasan hutan Gunung Samak sekitar pukul 06.00 WIB.
Mereka memasuki kawasan hutan sekitar pukul 07.00 WIB dan tiba di sebuah pondok di sekitar Pantai Teluk Rambut pada pukul 09.00 WIB. Karena keterbatasan sinyal di lokasi, ketiganya tidak dapat mengabari keluarga bahwa mereka berencana bermalam.
Laporan terkait hilangnya ketiga pelajar diterima Kantor SAR Natuna pada pukul 21.55 WIB. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Pos SAR Anambas, BPBD, Polres, Koramil, Pramuka Peduli, Tagana, serta masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas langsung bergerak melakukan pencarian.
Menghadapi medan hutan yang terjal serta kondisi malam hari, tim memutuskan mengubah strategi pencarian dengan menempuh jalur laut menggunakan pompong nelayan.
Keputusan itu membuahkan hasil. Pada pukul 01.30 WIB, ketiga pelajar berhasil ditemukan dalam kondisi sehat di sebuah pondok di sekitar Teluk Rambut. Mereka kemudian dijemput dan dipulangkan kepada keluarga pada pukul 02.31 WIB.
Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, menegaskan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam percepatan pencarian.
“Berdasarkan informasi awal dari warga yang mengenali aktivitas para pelajar memang berada di sekitar Teluk Rambut, tim bisa langsung fokus ke titik itu. Tanpa itu, pencarian di hutan seluas itu akan memakan waktu lebih lama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penyesuaian strategi pencarian sesuai kondisi lapangan. Jalur laut dipilih sebagai alternatif paling efektif karena akses darat dinilai terlalu berisiko untuk dilalui pada malam hari.
Selain itu, Abdul Rahman mengingatkan pentingnya keterbukaan informasi kepada keluarga sebelum melakukan aktivitas di alam terbuka.
“Ini menjadi pengingat dan pembelajaran bagi adik-adik kami. Selalu terbuka dan jelas dalam memberikan informasi terkait waktu pergi dan pulang, lokasi yang dituju, serta siapa saja yang terlibat ketika berkegiatan di alam terbuka. Tujuannya sederhana, agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih bagi keluarga di rumah,” katanya.
Menurutnya, edukasi keselamatan sangat penting di wilayah kepulauan seperti Natuna dan Anambas yang memiliki tantangan geografis besar.
Wilayah kerja Basarnas Natuna sendiri mencakup area seluas 100.041 mil laut persegi dengan ratusan pulau kecil. Kondisi cuaca yang cepat berubah, medan berat, serta keterbatasan sinyal membuat keterlambatan informasi bisa berdampak serius pada proses penyelamatan.
“Alhamdulillah seluruh pelajar telah ditemukan dalam kondisi selamat dan sehat. Berkat dukungan semua pihak, penyebaran informasi SAR hingga keselamatan menjadi tanggung jawab bersama,” tutup Abdul Rahman.
Basarnas juga mengimbau masyarakat untuk selalu melaporkan rencana perjalanan ke alam terbuka kepada keluarga, menghindari aktivitas di hutan, gunung, atau pantai tanpa pendamping berpengalaman, serta segera menghubungi layanan darurat 115 apabila menemukan kondisi yang membahayakan keselamatan jiwa.










