TVRINews, Natuna
Kantor Pencarian dan Pertolongan Natuna mengingatkan pentingnya penguasaan keterampilan dasar pertolongan pertama bagi masyarakat. Langkah sederhana yang dilakukan dalam lima menit pertama saat kondisi darurat dinilai dapat menjadi penentu keselamatan korban.
Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, mengatakan kecelakaan maupun kondisi darurat dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, mulai dari di laut, jalan raya, sekolah, hingga lingkungan rumah.
Menurutnya, keselamatan korban tidak hanya bergantung pada kecepatan tim penyelamat, tetapi juga pada tindakan awal orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian.
“Kondisi darurat masih bisa tertolong apabila dilakukan penanganan yang tepat dan cepat. Menguasai ilmu dasar pertolongan pertama selama golden period adalah bekal yang harus dimiliki semua orang,” ujar Abdul Rahman.
Ia menjelaskan, di wilayah kepulauan seperti Natuna dan Anambas, tantangan jarak dan cuaca sering kali membuat tim SAR, ambulans, maupun tenaga medis membutuhkan waktu lebih lama untuk tiba di lokasi.
Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton saat terjadi insiden, melainkan mampu memberikan bantuan awal untuk menjaga peluang hidup korban hingga bantuan profesional datang.
Dalam penanganan medis darurat dikenal istilah golden period, yakni rentang waktu 4 hingga 6 menit setelah kejadian yang menjadi peluang emas untuk menyelamatkan nyawa korban.
Pada kasus henti napas dan henti jantung, pemberian CPR atau resusitasi jantung paru dalam periode tersebut dapat mencegah kerusakan otak permanen. Setelah melewati enam menit, risiko kematian maupun kerusakan otak meningkat tajam.
“Langkah cepat dalam 4 sampai 6 menit pertama bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati seseorang,” katanya.
Abdul Rahman menegaskan, masyarakat tidak perlu memiliki latar belakang medis untuk dapat memberikan pertolongan awal.
Sejumlah keterampilan dasar yang dapat dipelajari melalui pelatihan singkat antara lain CPR dan bantuan napas, penanganan korban tenggelam, penanganan luka dan pendarahan, posisi aman bagi korban pingsan, hingga teknik penanganan tersedak.
Menurutnya, keterampilan tersebut relatif mudah dipelajari, tidak membutuhkan alat khusus, dan dapat diterapkan oleh siapa saja.
Sebagai bagian dari edukasi keselamatan, Kantor SAR Natuna secara rutin membuka pelatihan dan simulasi pertolongan pertama bagi sekolah, komunitas, instansi, serta masyarakat umum.
Abdul Rahman menekankan bahwa menjadi penolong tidak harus menunggu menjadi tenaga profesional seperti dokter atau personel SAR.
“Cukup dengan satu keterampilan dasar, seseorang sudah bisa membantu menyelamatkan nyawa orang di sekitarnya,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk aktif mengikuti pelatihan pertolongan pertama melalui Kantor SAR terdekat maupun fasilitas layanan kesehatan setempat.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang memahami pertolongan pertama, semakin besar pula peluang keselamatan korban dalam kondisi darurat.
“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Saat semua orang tahu caranya, kita semua menjadi lebih aman,” pungkasnya.










