TVRINews, Lingga
Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, memiliki salah satu penanda geografis penting berupa Tugu Khatulistiwa yang berada di kawasan Tanjung Teludas, Desa Mentuda, Daik Lingga.
Tugu tersebut menandai garis lintang nol derajat atau garis khatulistiwa yang secara geografis membelah bumi menjadi belahan utara dan selatan. Keberadaannya sekaligus menjadi penanda bahwa Pulau Lingga merupakan salah satu wilayah Indonesia yang dilintasi garis ekuator.
Gagasan pembangunan Tugu Khatulistiwa Daik secara resmi dimulai pada 5 Mei 2009. Prasasti pembangunannya ditandatangani Gubernur Kepulauan Riau saat itu, Ismeth Abdullah.
Pembangunan fisik tugu dan kawasan di sekitarnya kemudian direalisasikan pada 2009 hingga 2010 di kawasan Tanjung Teludas, Desa Mentuda.
Staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang sejarah, pelestarian cagar budaya dan permuseuman, Lazuardi, mengatakan pembangunan tugu memiliki dua tujuan utama, yakni menegaskan keberadaan garis khatulistiwa yang melintasi Pulau Lingga sekaligus mengembangkan potensi wisata.
"Pertama, Tugu Khatulistiwa ini dibangun untuk membuktikan bahwa Pulau Lingga merupakan salah satu wilayah yang dilalui garis khatulistiwa. Yang kedua, tentu untuk tujuan wisatawan," ujar Lazuardi.
Berbeda dengan Tugu Khatulistiwa di Pontianak maupun kawasan Bonjol yang berada di wilayah daratan dan perkotaan, Tugu Khatulistiwa Lingga berada di atas kawasan berbukit dengan panorama laut lepas.
Posisi tersebut menjadi salah satu daya tarik kawasan karena pengunjung tidak hanya dapat melihat penanda garis ekuator, tetapi juga menikmati lanskap pesisir Pulau Lingga.
Dari sisi arsitektur, desain tugu memadukan simbol penunjuk arah dan kulminasi matahari dengan ragam hias Melayu. Warna kuning, hijau, dan merah turut digunakan untuk memperkuat identitas budaya Melayu yang menjadi karakter Kabupaten Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu.
Kawasan Tugu Khatulistiwa Lingga juga diproyeksikan sebagai destinasi wisata berbasis edukasi dan geowisata. Pengunjung dapat mengenal fenomena geografis garis khatulistiwa sekaligus melihat keterkaitannya dengan sejarah dan budaya masyarakat setempat.
Kawasan tersebut mendapat kunjungan rombongan wartawan dari berbagai media di Batam dalam agenda Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026.
Perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman wisata. Dari simpang menuju Pelabuhan Sungai Tenam, tugu berjarak sekitar dua kilometer. Akses jalan menuju kawasan tersebut juga terus dibenahi untuk mendukung mobilitas wisatawan.
Dari Daik, perjalanan menuju kawasan Tugu Khatulistiwa membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan kendaraan darat ke arah Pelabuhan Sungai Tenam.
Dengan keunikan geografis, panorama alam, dan identitas budaya Melayu yang melekat, Tugu Khatulistiwa Lingga berpotensi dikembangkan sebagai salah satu destinasi unggulan berbasis geowisata di Kabupaten Lingga.








