TVRINews, Anambas
Panen raya buah kembang semangkok (Scaphium macropodum) membawa angin segar bagi masyarakat di Pulau Jemaja, Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Komoditas hasil hutan tersebut kini memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga jual mencapai Rp180.000 per kilogram.
Melimpahnya hasil panen membuat warga, khususnya di Desa Bukit Padi, ramai mengumpulkan buah yang secara lokal juga dikenal sebagai kepayang tersebut. Musim panen tahun ini disebut menjadi salah satu yang paling melimpah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kembang semangkok tumbuh di kawasan hutan Pulau Jemaja dengan luas sekitar 4.000 hektare. Persebarannya mencakup sejumlah wilayah, antara lain Desa Bukit Padi, Kuala Maras, Ulu Maras, dan Air Biru.
Tingginya harga jual memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat. Ponisah, warga Desa Bukit Padi, mengatakan hasil panen kembang semangkok membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dengan harga mencapai Rp180 ribu per kilo, buah ini sangat membantu menopang kebutuhan hidup warga. Kami berharap pohon kepayang terus dijaga kelestariannya demi anak cucu kita dan semoga bisa terus berbuah setiap tahun,” ujarnya.
Untuk mempertahankan kualitas buah, masyarakat masih menggunakan metode panen tradisional. Warga menunggu buah matang dan jatuh secara alami dari pohon sebelum dikumpulkan.
Cara tersebut dilakukan agar proses pemanenan tidak merusak dahan maupun pohon. Selain menjaga kualitas hasil panen, pola tersebut dinilai penting untuk mempertahankan keberadaan pohon kembang semangkok di kawasan hutan Jemaja.
Fenomena panen raya ini sekaligus menjadi perhatian pemerintah di tingkat kecamatan. Para camat di tiga kecamatan di Pulau Jemaja mengimbau masyarakat agar tidak mengeksploitasi pohon secara berlebihan.
Warga juga diminta menghentikan praktik pembalakan liar yang dapat mengancam keberadaan pohon kembang semangkok dan ekosistem hutan.
Bagi masyarakat Jemaja, tingginya nilai ekonomi kembang semangkok menunjukkan bahwa hutan dapat memberikan sumber penghidupan tanpa harus dieksploitasi secara berlebihan. Karena itu, keberadaan pohon Scaphium macropodum dinilai perlu dijaga sebagai sumber pendapatan masyarakat sekaligus bagian dari ekosistem kawasan perbatasan negara.










