TVRINews, Tanjungpinang
Pendidikan menjadi salah satu instrumen utama dalam memutus rantai kemiskinan. Melalui program Sekolah Rakyat, pemerintah menghadirkan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem sebagai upaya memperluas kesempatan belajar dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Program Sekolah Rakyat menyasar anak-anak dari keluarga desil satu dan dua berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yakni kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi paling rentan. Program ini dirancang untuk menekan angka putus sekolah sekaligus menjadi langkah strategis dalam meningkatkan peluang mobilitas sosial melalui pendidikan.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang, Reni Putri Rahmadani, mengungkapkan bahwa pelaksanaan program ini memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam membina siswa dengan latar belakang yang beragam.
Menurut Reni, banyak siswa merupakan anak-anak yang sempat putus sekolah dan telah terbiasa hidup bebas, sehingga membutuhkan proses adaptasi untuk kembali mengikuti rutinitas dan kedisiplinan sekolah.
“Kami menghadapi berbagai karakter siswa, termasuk yang pernah putus sekolah. Proses pembinaan tentu membutuhkan pendekatan yang lebih intensif agar mereka kembali fokus pada pendidikan,” ujar Reni.
Untuk membentuk disiplin, sekolah menerapkan sejumlah aturan, salah satunya larangan membawa telepon genggam. Kebijakan ini menjadi bagian dari penanaman kebiasaan positif meski bagi sebagian siswa cukup menantang. Selain itu, kebiasaan merokok yang masih ditemukan pada siswa usia SMP dan SMA turut menjadi perhatian pihak sekolah. Guru melakukan pendampingan melalui pendekatan edukatif, mengarahkan siswa pada kegiatan akademik maupun non-akademik, termasuk berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat dan harapan baru tumbuh dari para siswa. Salah satunya, Andi Melisa Syahputri, yang merasakan perubahan positif sejak bergabung di Sekolah Rakyat.
Bagi Melisa, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk memperoleh teman, kenyamanan, serta motivasi baru. Ia merasa terbantu dengan fasilitas yang diberikan, mulai dari perlengkapan belajar, sarapan, hingga makan siang.
“Di sini saya merasa nyaman belajar, punya banyak teman, dan semua kebutuhan sekolah juga difasilitasi. Saya jadi lebih semangat untuk mengejar cita-cita,” ujar Melisa.
Kini Melisa memiliki impian menjadi seorang programmer, didukung oleh guru-guru yang terus membimbing dan membuka ruang bagi perkembangan dirinya.
Keberadaan Sekolah Rakyat membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih masa depan yang lebih baik. Di tengah keterbatasan, semangat belajar para siswa menjadi harapan untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus membangun masa depan bangsa.










