TVRINews, Anambas
Musim kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah mulai berdampak serius pada sektor pertanian. Di Pulau Jemaja, para petani padi terpaksa harus bekerja ekstra demi mempertahankan tanaman mereka dari ancaman kekeringan, Keterbatasan pasokan pupuk, hingga serangan hama.
Panas terik matahari tak menyurutkan langkah Wagito, salah seorang petani padi di Pulau Jemaja.
Di tengah kondisi cuaca ekstrem yang tak menentu, ia terus berjuang agar tanaman padinya bisa
bertahan hidup hingga masa panen tiba.
Namun, perjuangan para petani di kawasan perbatasan ini tidaklah mudah. Wagito mengungkapkan bahwa ia harus menghadapi minimnya pasokan air irigasi yang kian surut, ditambah sulitnya mendapatkan bantuan pupuk serta obat-obatan pembasmi hama.
Kendala yang bertubi-tubi ini berpotensi merusak kualitas serta menurunkan jumlah hasil panen secara signifikan.
Wagito berharap hujan bisa segera turun agar tanaman padinya tumbuh subur. Selain faktor cuaca, ia juga mengetuk perhatian pemerintah agar pasokan sarana produksi pertanian dapat diperhatikan.
"Kami sangat berharap ke depannya ada bantuan pupuk dan obat-obatan dari pemerintah. Jika kebutuhan itu terpenuhi, kami tentu lebih semangat mengolah lahan sehingga ekonomi petani di sini bisa meningkat," ujar Wagito.
Untuk meminimalkan potensi gagal panen, para petani di Pulau Jemaja mendapat pendampingan berkala dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Pertanian Terpadu (UPT BBPT).
Melalui pemantauan langsung di lapangan, termasuk di lahan milik Wagito, para petugas berupaya mendeteksi dini berbagai kendala pertanian serta mencari solusi bersama.
Langkah ini dilakukan agar sektor pertanian di wilayah kepulauan tersebut tetap tangguh dan bertahan di tengah terpaan cuaca ekstrem.










