TVRINews, Anambas
Kabupaten Kepulauan Anambas resmi menginjak usia 18 tahun pada tahun 2026 ini. Namun, di tengah momentum perayaan hari jadi dan musim libur panjang sekolah, masyarakat justru harus menelan pil pahit. Akses transportasi dari dan menuju wilayah perbatasan ini mengalami kepahitan massal, memicu keluhan dari warga yang memiliki urusan mendesak.
Tantangan geografis Anambas sebagai daerah kepulauan kembali menjadi momok menakutkan bagi mobilitas warga dan wisatawan. Berdasarkan pantauan di lapangan, hampir seluruh moda transportasi udara dan laut menuju Anambas mengalami kendala besar dalam beberapa hari ke depan.
Di sektor transportasi udara, maskapai Wings Air yang melayani rute Batam–Letung (PP) dilaporkan mengalami cancel flight atau pembatalan penerbangan hingga hari Rabu, 24 Juni 2026. Sementara itu, bagi warga yang berharap pada maskapai Susi Air, harapan tersebut harus pupus karena seluruh kursi telah terisi penuh (full seat) untuk penerbangan hari Senin, 22 Juni 2026.
Kondisi di jalur laut pun tidak kalah memprihatinkan. Moda transportasi andalan masyarakat, yaitu kapal cepat (Ferry) rute Tanjungpinang–Batam–Letung dan Tarempa, juga dilaporkan full seat untuk keberangkatan hari Senin, 22 Juni 2026.
Sebagai alternatif, kapal Roll-on/Roll-off (Roro) dan kapal Pelni memang beroperasi tanpa kendala teknis. Kendati demikian, jadwal keberangkatan yang tidak ada setiap hari serta durasi perjalanan yang memakan waktu lama membuat kedua moda transportasi ini dinilai tidak efektif untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang bersifat urgen atau mendesak.
"Mau pulang atau pergi karena urusan darurat sekarang mustahil. Pesawat cancel, tiket ferry habis. Kita seperti terisolasi di daerah sendiri," keluh Ahmad salah seorang warga yang terdampak libur panjang, Minggu, 21 Juni 2026.
Kondisi ini menjadi tamparan keras sekaligus pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas. Di usianya yang sudah menginjak 18 tahun, kedewasaan pembangunan daerah seharusnya sudah mampu menjawab tantangan fundamental seperti aksesibilitas.
Secara geografis, Kepulauan Anambas berada di beranda terdepan Indonesia. Wilayah ini justru memiliki kedekatan jarak dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara ketimbang dengan Ibu Kota Negara. Posisi strategis ini dinilai sia-sia jika mobilitas masyarakatnya masih terpasung oleh keterbatasan transportasi.
Pemerintah daerah dituntut untuk segera duduk bersama pihak maskapai, operator kapal, dan pemangku kebijakan pusat guna mencari solusi konkret jangka panjang.
Percepatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Anambas mustahil terwujud jika urat nadi utamanya, yaitu transportasi masih sering tersumbat.
Anambas hanya akan benar-benar bangkit dan sejahtera jika tantangan konektivitas antar daerah dan antar pulau ini mampu terjawab dengan baik.










